Equalityworld Futures – Pemerintah DKI Jakarta kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total mulai 14 September 2020 kecuali untuk 11 sektor usaha. Keputusan itu diambil Gubernur DKI Jakarta demi menekan laju penyebaran covid-19 namun dinilai sebagian kalangan dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian tanah air.

Untuk dunia usaha, sektor swasta, ada beberapa yang dikecualikan. Pelaku usaha yang bergerak pada sektor: kesehatan, bahan pangan/ makanan/ minuman; energi; komunikasi dan teknologi informasi; keuangan; logistik; perhotelan; konstruksi; industri strategis; pelayanan dasar, utilitas publik dan industri yang ditetapkan sebagai objek vital nasional dan objek tertentu; dan/atau, kebutuhan sehari-hari.

Menanggapi keputusan tersebut ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati mengatakan PSBB total berarti semua kegiatan ekonomi dan juga sosial akan terhenti sebagaimana bulan April dan Mei lalu. Itu berarti bakal berdampak kepada sektor jasa di tataran pemerintah maupun masyarakat.

Ia bahkan meyakini pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 akan kembali berada pada teritori negatif sebagaimana kuartal II-2020. Enny menegaskan, persoalan saat ini bukan semata-mata masalah PSBB, melainkan perspektif investor. Di saat semua negara sudah membuka diri dan recovery aktivitas perekonomian seiring penurunan kasus konfirmasi Covid-19, sebaliknya dengan Indonesia.

Analis RHB Sekuritas, termasuk Andrey Wijaya, Michael Setjoadi, dan Andre Benas, dalam publikasi riset hariannya mengatakan bahwa penerapan kembali kebijakan PSBB total di DKI Jakarta merupakan langkah rasional dari pemerintah mengingat laju kasus positif harian Covid-19 DKI Jakarta terus meningkat dengan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Kemudian, PSBB yang ketat mungkin berdampak negatif bagi operator mal. Padahal, mal baru saja mendapatkan daya tarik setelah diterapkannya pelonggaran PSBB dalam beberapa bulan terakhir.

Oleh karena itu, RHB Sekuritas mengatakan lebih berpihak terhadap sektor properti yang memiliki portofolio kawasan Industri dibandingkan dengan yang berfokus terhadap bisnis pendapatan berulang, seperti mal, dan pembangunan.

Sumber : Investing